Sedikit Lama-lama Jadi Bukit


abula45_curhat.gifSedikit lama-lama jadi bukit. Begitu sulit mendengar peribahasa macam ini sekarang. Entah sudah tak mode lagi berpetatah-petitih atau bahkan maknanya tak lagi berakar dalam kehidupan nyata. Bukankah sekarang, meskipun tak sadar mungkin, sedang demam mengejar target sekaligus menunggu tibanya proyek? Lebih praktis, lebih realistis, dan lebih menguntungkan. Ya, itulah mungkin cerminan dari semangat menerabas, cepat muncul, meraksasa, dan wah, sambutan dari sana-sini.

Di zaman yang serba instan saat ini, kita biasanya lebih memilih hal-hal yang serba praktis daripada harus bergelut dalam proses. Contohnya, kita lebih memilih membeli lauknya nasi ke warung daripada harus memasak di rumah. Alasannya, kadang-kadang biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal. Selain juga, melelahkan dan memakan waktu. Jadi, daripada memasak sendiri, lebih baik membeli dari warung. Di rumah itu cukup menanak nasinya saja, itu juga jika kebetulan tidak sedang sibuk.

Gejala seperti itu terutama biasa terjadi di kawasan urban, di kota besar, dalam scope yang lebih sempit. Kata orang pintar, hal ini karena terpengaruh dari budaya barat yang memang menyukai hal-hal yang serba praktis dan instan.

Sepertinya, bila melihat gejala seperti itu, tidak akan lama lagi peribahasa “sedikit lama-lama jadi bukit” akan musnah, hilang dari khasanah budaya yang kita anut, tergeser oleh budaya atau filosofi lain yang dianggap lebih menguntungkan. Seandainya masih ada pun, hanya sekadar penghias bibir, hanya sekadar diucapkan, namun hambar, kering, kehilangan ruhnya.

Dirgahayu Indonesiaku!

14 Responses to “Sedikit Lama-lama Jadi Bukit”


  1. 1 phiy 11 Agustus 2009 pukul 09:38

    alhamdulillah aku masih pegang pribahasa itu. Aku masih suka nabung, barang 20rebu aja. Yang penting kan punya duit cadangan. Biar sedikit, nanti lama2 jadi bukit (itu kalo aku rajin nabungnya) hehe:mrgreen:

    • 2 Acha 11 Agustus 2009 pukul 14:56

      wow hebat, 20 ribu/hari… 10 tahun bisa lebih dr 100 juta tuh…
      _salam anget_

  2. 3 ~noe~ 11 Agustus 2009 pukul 10:04

    kalo menurut diriku, kang.
    selama beli di warung itu memang biayanya lebih murah, kita malah bisa menerapkan pepatah sedikit demi sedikit itu.
    apalagi untuk warungnya, sedikit demi sedikit warung itu bisa tambah maju.

    • 4 Acha 11 Agustus 2009 pukul 14:59

      sy sepakat dgn pendapat mas ~noe~
      _salam anget_

  3. 5 wi3nd 11 Agustus 2009 pukul 10:19

    kadan9kala beli diwarun9 karna meman9 terkondisikan
    tapi klu la9i libur biasanya masak kok🙂

    nabun9 diusahakan setiap bulannya🙂

    • 6 Acha 11 Agustus 2009 pukul 15:01

      duuh udah pandai memasak, rajin menabung pula… mantap.
      _salam anget_

  4. 7 c0c0latez 11 Agustus 2009 pukul 13:04

    artikel bagus,
    mengingatkan kita untuk selalu mengingat kata-kata pepatah,
    aku slalu mengingat kata2 itu, karena aku orangnya memang serba kesedikitan. hhe..

    -salam kenal-
    ini kunjungan pertamaku,,
    http://c0c0latez.wordpress.com/

    • 8 Acha 11 Agustus 2009 pukul 15:03

      kesedikitan… apanya mas..?
      _salam anget_

  5. 9 guskar 11 Agustus 2009 pukul 15:19

    filosofi ini dpt diterapkan dalam hal penghematan. sedikit2 belajar berhemat lama-lama akan menjadi suatu kebiasaan. di jaman yg makin susah mesti banyak cadangan pundi2 kita🙂

  6. 10 hellgalicious 11 Agustus 2009 pukul 18:37

    wiii setiap hari ngeposting baru ya?
    semangat ngeblog ni…

  7. 11 Hariez 11 Agustus 2009 pukul 23:14

    semoga anak cucu kita masih mau melestarikannya ya sobat..

    -salam-^_^

  8. 12 cerita cinta 12 Agustus 2009 pukul 00:47

    sepertinya pepatah itu akan tetap ada dan lestari. karena tidak semua orang mampu mendapatkan sesuatu yang besar secara instan…….
    banyak oarang yg harus mengumpulkan sesuatu sedikit demi sedikit. bukan karena mereka tidak mau, karena ngga mampu….. seperti saya… hehe
    salam kenal…. ditunggu kunjungannya…

  9. 13 -tikabanget- 12 Agustus 2009 pukul 16:20

    kota besar kayak jakarta memaksa cara berpikir jadi praktis dan pengennya buru-buru melulu.. (annoyed)

  10. 14 bundadontworry 13 Agustus 2009 pukul 11:15

    sebaiknya sih kalau mau nabung dgn cara sedikit2 lama2 jadi bukit, bagus banget, cuma sekarang malah agak susah mau nabung, uang bulanan dr suami cuma transit sebentar di dompet, lantas melayang ke pos masing2.
    jadi, kalau mau nabung, nunggu dapat arisan dulu…..:)🙂
    salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




SALAM

decib!
Semoga isinya bermanfaat bagi siapa saja yang berkunjung, dan memanfaatkan isinya.

KATEROGI POST

ARSIP POST

Share

Add to netvibes Subscribe in Bloglines
Add Abula45 | Pusat Informasi Digital to ODEO
Subscribe in podnova
I heart FeedBurner

Komunitas Blog

TopOfBlogs Technology
Bloggerian Top Hits DigNow.net
Indonesian Muslim Blogger
Yuk.Ngeblog.web.id

Statistik

  • 143,796 hits sejak 29 Nov. 2008

Twitter Update

Flickr Photos

Fast-flying Falcon

Reflection Perfection

sunset and fishing nets

Lebih Banyak Foto