Perubahan (yang Biasanya Terjadi) Sehabis Pemilu


Desa Ciburial sedang semarak menyambut pemilihan langsung. Berbagai atribut para kandidat presiden dan wakilnya terpasang di berbagai tempat. Bendera-bendera, spanduk, poster, dan stiker-stiker terpampang di tempat-tempat strategis. Para pendukung para kandidat berkampanye mendekati tokoh-tokoh masyarakat. Mereka semua mengklaim kandidatnya sudah mendapat “restu” dari tokoh-tokoh itu. Semua berdebat tentang capres yang mereka dukung. Sore itu pun warung Mpok Mamah ramai oleh perbincangan tentang capres-capres itu.

“Semua sibuk berteriak capres-capresan,” kata Cibu mengeluh.

“Lho, memang kan lagi musimnya, adu-aduan capres,” sahut Aman.

“Benar sih, tetapi urusan yang lain juga jangan dilupakan dong,” kata Rial ikut nimbrung.

“Coba bayangkan, intensitas kendaraan yang masuk ke desa kita, gara-gara banyaknya cafe, yang membuat jalan desa kita rusak parah. Eh, bukannya dikasih bantuan aspal atau semen buat memperbaiki jalan yang bolong-bolong, retak dan nyaris longsor, malah dikasih kaos gambar capres. Memangnya kaos bisa nyegah kecelakaan di jalan dan juga longsor,” kata Makmur.

“Udah, udah, jangan kesal begitu. Pesan kopi dulu, entar Mpok Mamah kesel lho, warungnya hanya dipake buat duduk-duduk doang,” ujar Tanto, bosnya petani Desa Ciburial.

“Iya tuh, jangan cuma debat aja, minum kopi juga dan makan gorengan,” sahut Mpok Mamah sembari menyuguhkan kopi yang dipesan Tanto.

“Lho, pemilu ini penting, kan kita mau memilih presiden dan wakilnya secara langsung. Ini kan juga ikut menentukan nasib bangsa,” kata Mang Gius.

“Kali ini rakyat bisa langsung memilih presidennya sendiri, tinggal pilih calon A, calon B, apa calon C, begitu. Enak kan, suara rakyat jadi jelas milih siapa,” kata Kang Akur.

“Eh, jangan salah kang, kita memang milih presiden secara langsung. Tetapi, calonnya kan bukan langsung diusulkan oleh rakyat seperti kita-kita ini. Tiga calon yang bertarung saat ini kan diusulkan oleh partai. Jadi, kita hanyalah memilih langsung calon yang diusulkan partai,” kata Lukman dengan penuh semangat.

“Benar tuh perkataan Lukman,” kata Rial menyokong.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan warung. Pembicaraan pun berhenti sejenak. Dua orang yang mengendarai sepeda motor itu membawa poster-poster dan stiker. Pakaian mereka bergambar salah satu pasangan capres dan wakilnya. Kedua orang itu memberikan salam dan mulai berbicara.

“Maaf, bapak-bapak dan ibu-ibu, ini mau bagi-bagi stiker dan poster,” kata orang itu sembari membagi-bagikan barang yang dibawanya.

“Stiker ini buat diapakan ya, buat ditempel saja,” sahut Aman.

Orang itu tidak menyahut. Hanya mengangguk-angguk saja. “Maaf Bu, numpang nempel poster,” kata salah seorang dari pengendara motor itu kepada Mpok Mamah.

“Boleh-boleh, tapi harus minum kopi dulu,” sahut Mpok Mamah, “Kopinya sedang atau pahit?” tanya Mpok Mamah lagi.

Kedua orang pengendara motor tersebut jadi kagok, akhirnya mengiyakan saja. Setelah ngobrol ngaler-ngidul dan menghabiskan kopinya dan membayar, Kedua orang tersebut pamit.

“Eh, menurutmu, pemilu ini akan membawa perubahan gak ya?” Tanya Cibu.

“Oh, itu pasti. Sekarang semua memperhatikan rakyat, berteriak soal rakyat, pokoknya serba rakyat deh. Setelah selesai pemilu, akan terjadi perubahan. Semua elite-elite politik berubah melupakan rakyat, tidak ingat lagi pada rakyat,” kata Rial.

Semua yang ada di warung serempak menyahut ucapan Rial, “Oooh, itu ya perubahan sehabis pemilu.”

15 Responses to “Perubahan (yang Biasanya Terjadi) Sehabis Pemilu”


  1. 1 tigaw 6 Juli 2009 pukul 06:32

    bener 10000 persen emang begitu jangan prisedn kemarin aja yang udah naik jadi anggota dewan pada kabur lupain janjinya semua. brengsek!!!! salam kenal dan seperjuangan dari tigaw.wordpress com

  2. 2 just azzam 6 Juli 2009 pukul 08:06

    Rakyat. Kata ini telah lama ditinggalkan. Namun, entah kenapa jelang pilpres, ia kembali populer. Bahkan seakan mjd sakral. Rasanya tdk afdhal jk ada capres-cawapres kelewat menyebut kata ini dlm setiap campaign-nya. Rasa takut menyelimuti jk mrk disebut tdk pro rakyat.

    Sayangnya, saat ini pemimpin justru mengeksploitasi rakyat. Mendekati wong cilik saat dibutuhkan. Mencampakkannya saat kepentingannya telah tercapai. Jangankan peduli nasib rakyat, mendengarkannya pun tak sudi. Tutup mata dan telinga kiri dan kanan. Persis pepatah lama, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG.

  3. 3 Nisa 6 Juli 2009 pukul 08:57

    Saya jadi bingung mau memilih *pertama kali milih tahun ini*

    Semoga perubahan yang lebih baik itu ada…

  4. 4 sugiman 6 Juli 2009 pukul 12:28

    perubahan yang bisa jadi baja hitam RX ..hihi

  5. 5 Ardy Pratama 6 Juli 2009 pukul 14:16

    hohohhoho.. artikel yg oke.. bgtu slse pemilu bakl lupa deh ma rkyat *ups!*

  6. 6 masicang 6 Juli 2009 pukul 20:18

    dibutuhkan perubahan tuk menjadi lebih baik
    dibutuhkan kekuasaan tuk merubah menjadi baik

  7. 7 Hariez 6 Juli 2009 pukul 21:15

    yupzz…semua elite politik lupa setelah Pemilu dan jangan lupa, kita hanyalah memilih langsung calon yang diusulkan partai😀😀
    nice post sobat😀😀

    -salam- ^_^

  8. 8 guskar 6 Juli 2009 pukul 21:19

    mendekati rakyat untuk meraih simpatinya. setelah duduk di kursi empuk, di gedung yg megah pintu dan jendelanya tertutup rapat, bahkan telinganya. tidak mendengar lagi suara rakyat.

  9. 9 agus siswoyo 6 Juli 2009 pukul 21:27

    perubahan memang harus dan wajib,
    tapi harus ada batas-batas kwewajaran. jangan sampai perubahan yang kebablasan.

    a nice articel!

  10. 10 romailprincipe 6 Juli 2009 pukul 22:00

    thx dah visit…
    analisis baik dan data banyak source..
    terus kabarkan fakta dan opini..
    perubahan, pasti

  11. 11 ichakoe 6 Juli 2009 pukul 23:02

    semoga elite politik tidak lupa janjinya ya😀 salam kenal

  12. 12 octa 8 Juli 2009 pukul 11:25

    bener tuh, berharap saja semoga mereka punya integritas..
    nice post.

  13. 13 achoey 9 Juli 2009 pukul 22:43

    Moga yg terpilih mampu berubah jauh lebih peka terhadap rakyat, bukan sebaliknya🙂

  14. 14 ebennezer 10 Juli 2009 pukul 05:28

    mantap…….

  15. 15 mas stein 10 Juli 2009 pukul 13:25

    hahaha, makanya kalo di kampung saya kesempatan menjelang pemilu bener-bener dimanfaatkan, minta ini itu ke calon anggota legislatif banyak dikasih, soale masih pada nyari simpati. kuatirnya nanti kayak yang sampeyan ceritakan itu, abis pemilu pada lupa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




SALAM

decib!
Semoga isinya bermanfaat bagi siapa saja yang berkunjung, dan memanfaatkan isinya.

KATEROGI POST

ARSIP POST

Share

Add to netvibes Subscribe in Bloglines
Add Abula45 | Pusat Informasi Digital to ODEO
Subscribe in podnova
I heart FeedBurner

Komunitas Blog

TopOfBlogs Technology
Bloggerian Top Hits DigNow.net
Indonesian Muslim Blogger
Yuk.Ngeblog.web.id

Statistik

  • 143,796 hits sejak 29 Nov. 2008

Twitter Update

Flickr Photos

Fast-flying Falcon

Reflection Perfection

sunset and fishing nets

Lebih Banyak Foto