A MYTH: REPUBLIK DESA?


Pendekatan klasik terhadap komunitas pedesaan sebagai masyarakat yang statis, yang menyukai hidup rukun, menjaga harmoni, dan saling menolong, telah lama ditinggalkan. Bayangan orang kota mengenai masyarakat desa yang tenang, tenteram, rela, rukun, dan berjiwa gotong-royong, sering tidak cocok dengan kenyataan.

Harmoni bukanlah sesuatu yang melekat pada komunitas pedesaan. Pencitraan desa-desa di masa lampau sebagai republik desa yang otonom, dan monolitik mungkin hanyalah sebuah mitos belaka.

Dinamika dan pluralitas desa sebenarnya telah terjadi sebelum masa kolonial. Selain itu, modernisasi dan pembangunan ekonomi juga telah memberikan peluang dan kesempatan bagi lahirnya patron-patron baru.

Modernisasi juga turut mempengaruhi orientasi masyarakat desa dari segi komunalistik ke individualistik dan materialistik. Faktor-faktor tersebut mengubah secara fundamental karakter dari hubungan patrimonial dan hirarkis menjadi hubungan yang lebih rasional atas kalkulasi ekonomi untung rugi.

Akan tetapi, terjadinya rasionalisme dalam pemikiran masyarakat desa, tidak berarti bahwa hal-hal yang bernuansa tradisi dan perasaan sama-sekali dihilangkan oleh warga desa. Interaksi sosial pada komunitas pedesaan acapkali juga masih dipengaruhi oleh masalah-masalah, seperti perbedaan afiliasi politik dan keyakinan, kekerabatan, kedudukan, harga diri / gengsi, masalah tanah, dll.

Sehingga wajarlah apabila sampai sekarang perdebatan-perdebatan mengenai komunitas pedesaan seringkali masih berkisar pada pertanyaan-pertanyaan seperti: sejauhmana masyarakat desa berpikir secara rasional dan independen. Atau sebaliknya, sejauhmana masyarakat desa masih menggantungkan nasibnya pada alam.

Nah, apa yang Anda pikirkan ketika Anda mendengar kata desa, orang desa, masyarakat desa, atau komunitas desa?

9 Responses to “A MYTH: REPUBLIK DESA?”


  1. 1 ekaria27 15 Mei 2009 pukul 21:02

    Suda tak sepolos dulu,
    sudah tak seramah dulu,
    sudah tak segotong – royong seperti dulu…🙂

  2. 2 WANDI thok 16 Mei 2009 pukul 02:43

    Makasih kalo mas Abula dah langganan post jue, tapi aku nggak (baca : belum bisa) caranya ngaktifin agar bisa nampilin semua artikel langganannya mas. Bantuin dunk.

  3. 3 wahyuapriani 16 Mei 2009 pukul 15:21

    Saya orang desa, tapi jujur, gak mau kl dibilang orang desa🙂

  4. 4 ahmad 16 Mei 2009 pukul 18:41

    Desa….. Hem.., kayaknya sekarang gak jauh beda deh dngan kota. Hal2 positif yg ada di kota sekarang bs ditemukan di desa, begitu juga hal2 yang negatif

  5. 5 reallylife 16 Mei 2009 pukul 19:07

    tempat yang damai, dengan nuansa pegunungan, sawah, ladang, sejuk di hati
    itulah desa dalam bayangan saya

  6. 6 achoey 17 Mei 2009 pukul 00:14

    Ketika saya mendengar kata-kata itu
    Maka saya mengembalikan ingatan lagi, bahwa saya orang desa.

    Saya merindu kerukunan dan toleransi antara mereka
    Yang kini mulai dihancurkan oleh TV
    Melalui berjuta tontonan bukan tuntunan yang tersaji

  7. 7 achoey 17 Mei 2009 pukul 00:15

    Kembali menata hati
    Dengan nilai air murni
    Dari sebuah desa yang kini bertepi

  8. 8 guskar 17 Mei 2009 pukul 09:21

    saya sependapat dengan achoey, TV-lah yang menghancurkan kearifan desa. Dulu, saya masih merasakan sesama masyarakat desa saling kenal mengenal, kini jangankan tetangga sebelah sawah, tetangga kiri kanan saja sdh tidak saling kenal. Mosok, istilah pergaulan lu-gue dipakai anak2 di suatu desa di lereng gunung lawu sana?

  9. 9 mascayo 17 Mei 2009 pukul 11:01

    saya juga sepakat sama kang achoey!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




SALAM

decib!
Semoga isinya bermanfaat bagi siapa saja yang berkunjung, dan memanfaatkan isinya.

KATEROGI POST

ARSIP POST

Share

Add to netvibes Subscribe in Bloglines
Add Abula45 | Pusat Informasi Digital to ODEO
Subscribe in podnova
I heart FeedBurner

Komunitas Blog

TopOfBlogs Technology
Bloggerian Top Hits DigNow.net
Indonesian Muslim Blogger
Yuk.Ngeblog.web.id

Statistik

  • 143,483 hits sejak 29 Nov. 2008

Twitter Update

Flickr Photos

Trillium Lake Alpine Glow

Chin Scratching Short-eared Owl

Arrow . . .

Lebih Banyak Foto