Mengelola Air Cara Desa Ciburial

17 03 2009

Potensi sumber air di beberapa tempat kian menyusut. Padahal di negeri yang elok dan indah ini telah dikaruniai sumber-sumber mata air yang berlimpah. Akan tetapi, karunia yang berlimpah itu kini makin menghilang seiring pesatnya laju pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.

Penebangan hutan yang membabi-buta dan alih fungsi lahan yang kian merajalela itu membuat sumber-sumber air menjadi kering. Sedangkan, kebutuhan penduduk yang jumlahnya semakin tinggi terus meningkat.

Di tengah ancaman krisis air itu, ada setitik harapan baru dari beberapa kelompok masyarakat di Jawa Barat yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya air. Kesadaran itu ternyata berkembang ke pelosok-pelosok yang sejak dahulu mengalami krisis air bersih. Mereka, kini mulai mengelola air secara efisien dan efektif.

Pentingnya air bagi kehidupan sangat dirasakan warga Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Sebelum tahun 2000, ribuan warga desa yang tinggal di Kawasan Bandung Utara itu hidup di tengah krisis air. Untuk mendapatkan air, warga Ciburial harus turun naik lembah atau lereng bukit dan berjalan sekitar enam hingga tujuh kilometer.

Untuk membuat sumur pun, mereka harus menggali tanah sampai kedalaman 24 meter. Jika musim kemarau sumurnya pasti kering.

Saat-saat itu telah berlalu. Kini, warga Desa Ciburial bisa menikmati air dengan mudah. Derasnya air bersih saat ini sudah sampai di rumah-rumah penduduk.

Untuk mendatangkan air dari Seke Gede harus melewati bukit dan lembah hingga ke rumah penduduk tidak semudah membalik telapak tangan. Mahal dan bernilainya air bagi kehidupan warga Ciburial membuat mereka bergandeng tangan.

Mereka menyatukan semangat dan kebersamaan untuk mengalirkan air ke rumah-rumah mereka. Mengalirnya air bersih hingga bisa sampai ke rumah-rumah berawal dari bantuan Gubernur Jawa Barat berupa pipa sepangjang kurang lebih 1 KM.

Padahal untuk mendatangkan air dari sumbernya yang berjarak tujuh kilometer dibutuhkan dana sekitar Rp.1 milyar lebih. Kekurangan dana itu tidak lantas menjadi hambatan. Warga pun kemudian berembuk untuk mengatasi persoalan kesulitan air yang menjadi sumber kehidupan. Lantas, warga pun bersama-sama menyingsingkan lengan baju untuk menanggung kekurangan itu dengan beswadaya.

Sejak akhir 1999 air sudah mengalir ke pusat desa. Meski tinggal di daerah berbukit, tetapi warga Desa Ciburial telah menerapkan sistem pengelolaan air bersih secara profesional. Laiknya perusahaan air minum, warga membentuk badan pengelolaan air bersih (BPAB-DC) yang dikelola oleh penduduk desa.

Sistem pembayarannya pun mirip dengan perusahaan air minum daerah. Di setiap rumah pelanggan ditempatkan meteran. Besarnya iuran yang harus dibayarkan oleh pelanggan, bergantung pada jumlah pemakaian. Bagi kelurga yang tergolong kurang mampu, terdapat keringanan jika ingin menjadi pelanggan. Penerapan sistem subsidi silang sangat membantu warga yang kurang mampu untuk berlangganan layanan air bersih.

Pengelolaan air secara swadaya dan swadana itu berlangsung secara transparan. Setiap pendapatan dan pengeluaran dicatat dan dilaporkan secara terbuka. BPAB Desa Ciburial (BPAB-DC) pun memiliki tenaga-tenaga yang khusus, mulai dari pencatat meteran hingga teknisi yang siap memperbaiki saluran yang rusak.

Tidak seperti perusahaan air minum daerah yang selalu mengaku merugi, BPAB Desa Ciburial malah bisa mengantongi keuntungan. Selama 8 tahun, aset BPAB-DC sudah mencapai Rp1,5 Milyar. Sedangkan dana-dana pinjaman yang dahulu digunakan untuk membangun jaringan air bersih pun kini hampir lunas.

Tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah dan luar negeri sebenarnya masyarakat Indonesia mampu hidup mandiri. Asalkan ada sebuah kesadaran.

Sebelum krisis air mengancam kita, agaknya upaya dari warga Desa Ciburial itu pantas untuk ditiru dan diterapkan. Sehingga, di masa depan kita mewariskan anak cucu dengan mata air, bukan air mata.


Actions

Information

3 responses

21 03 2009
Irwan M Santika

Pagi mas, sya suka seneng banget nih klo baca postingan yg membicarakan tentang alam, apalagi air, walah walaah, sya sudah membayangkannya betapa fresh dan segeeeeeer gitu, he hee.

btw, ciburial cimenyan sya kayanya pernah denger tuh mas daerah mana itu ya tepatnya, saya rumah dibanjaran kab.bandung tpi sering juga ke daerah cililin, kayanya hampir deket2 ya mas.

ato mas hanya dalam rangka tugas saja ke daerah ciburial.

30 04 2009
Acha

Ciburial yg dimaksud adalah dari Dago – Bandung terus ke utara, ga terlalu jauh kok. Oh Iya, nama lain untuk Ciburial juga biasa disebut Dago Pakar atau Dago Atas.

Kebetulan Saya tinggal di desa, yg menurut Saya sangat2 indah tersebut.

6 07 2009
Perubahan (yang Biasanya Terjadi) Sehabis Pemilu « Abula45 | Pusat Informasi Digital

[...] “Udah, udah, jangan kesal begitu. Pesan kopi dulu, entar Mpok Mamah kesel lho, warungnya hanya dipake buat duduk-duduk doang,” ujar Tanto, bosnya petani Desa Ciburial. [...]

Leave a comment